Suku Muna, Sulawesi
Suku Muna (Wuna), adalah suatu suku yang
terdapat di pulau Muna kabupaten Muna dan
pulau-pulau kecil sekitarnya, terdapat juga di
pulau Buton, pulau Siompu, pulau Kadatua dan
kepulauan Talaga provinsi Sulawesi Tenggara.
Nama Muna pada asalnya dikenal dengan
nama "Wuna" yang berarti "bunga", dimana
terdapatnya gugusan batu yang berbunga
seakan-akan batu karang yang ditumbuhi
rumput laut. Nama Wuna terakhir berubah
menjadi Muna dan menjadi bagian propinsi
Sulawesi Tenggara. Sebagaimana nama asli
suku Muna dan pulau Muna.
Suku Muna memiliki ras polynesia dan ras
melanesia. Orang Muna berkulit coklat sampai
hitam dan rambut ikal sampai keriting. Ciri-ciri
fisik orang Muna lebih mendekati ciri fisik orang
Maluku dan Flores atau juga dengan orang-
orang di daerah Pasifik. Secara fisik orang
Muna berbeda dengan suku-suku lain di
Sulawesi Tenggara yang kebanyakan memiliki
ras mongoloid. Bahasa yang digunakan oleh
orang Muna adalah bahasa Muna. Bahasa
Muna selain diucapkan di pulau Muna, juga
tersebar ke pulau Buton dan pulau-pulau kecil
sekitarnya.
Dilihat dari karakter dan budaya suku Muna
lebih dekat dengan orang-orang di Nusa
Tenggara Timur, seperti Flores. Bahkan kain
tenun suku Muna juga mirip dengan kain tenun
di Nusa Tenggara Timur. Kemungkinan asal-
usul orang Muna masih terkait dengan orang-
orang dari Flores atau dari Nusa Tenggara
Timur. Selain itu juga terdapat kemiripan
dengan suku Aborigin di Australia. Dilihat dari
masa lalu suku Muna ini, bahwa dahulunya
mereka sering berlayar sampai ke perairan
Australia dan daerah-daerah pasifik lainnya jadi
kemungkinan ada hubungan tradisional antara
orang Muna dan suku Aborigin di Australia.
Menurut La Kimi Batoa dalam bukunya "Sejarah
Muna" dikatakan bahwa penduduk asli pulau
Muna adalah O Tomuna dan Batuawu.
O Tomuna memiliki ciri-ciri berkulit hitam,
rambut ikal tinggi badan antara 160- 165 cm.
Ciri-ciri ini merupakan ciri-ciri umum suku-suku
melanesia.
Batuawu berkulit coklat berambut ikal dan
tinggi tubuh sekitar 150-160 cm. Ciri-ciri
seperti ini merupakan ciri yang dimiliki suku-
suku polynesia yang mendiami Nusa Tenggara
Timur dan daerah Maluku.
Menurut para peneliti nenek moyang orang
Muna (O Tomuna dan Batuawu) telah menghuni
pulau Muna sejak ribuan tahun yang lalu. Selain
di pulau Muna, mereka juga menjadi penghuni
pulau Buton dan pulau-pulau keci lainnya.
Penyebaran ini terlihat dari hubungan bahasa
dan ciri-ciri fisik yang terdapat di daerah pulau-
pulau tersebut.
Orang Muna menjadi penghuni pertama pulau
Muna dan pulau-pulau lainnya sejak zaman
purbakala. Hal terbukti dengan ditemukannya
relief purba di gua Liangkobori dan Gua
Metanduno. Menurut beberapa peneliti, relief
tersebut telah berusia lebih dari 25.000 tahun.
Relief yang ada di Gua Liangkobori dan
Metanduno secara jelas menceritakan aktifitas
nenek moyang orang Muna saat itu.
Dari relief tersebut disimpulkan kalau nenek
moyang orang Muna menempati gua sebagai
tempat tinggal mereka. Orang Muna saat itu
seperti yang diceritakan dari relief tersebut telah
menggunakan alat-alat pertanian dalam
bercocok tanam. Sepertinya mereka juga
memiliki pengetahuan tentang astronomi,
seperti yang terlihat dari gambar matahari,
bulan dan bintang. Terdapat beberapa nama
rasi bintang yang menjadi petunjuk untuk
melakukan aktifitas pertanian. Misalnya saja
rasi bintang yang dinamakan Fele, apabila rasi
bintang ini sudah makin terlihat jelas, maka
aktifitas membersihkan lahan segera dimulai
sebab satu bulan lagi hujan pertama akan
turun. Apabila hujan sudah turun maka
pembakaran lahan dimulai.
Dalam kehidupan sehari-hari orang Muna sering
juga disebut sebagai orang Buton. Hal ini
dikarenakan di masa Kesultanan Buton, atas
bantuan Belanda mengkooptasi Kerajaan Muna
dan mengklaimnya sebagai bagian dari wilayah
Kesultanan Buton. Kendati demikian orang
Muna sampai sekarang tidak pernah mengakui
hal tersebut, dan lebih suka mengaku sebagai
orang Muna daripada sebagai orang Buton.
Orang Muna terus melakukan perlawanan
terhadap kooptasi Kesultanan Buton dan
Belanda serta tak pernah mengakui hal
tersebut. Konsekuensi dari perlawanan tersebut
adalah diasingkannya beberapa Raja Muna ke
pulau Sumatera dan Jawa. Perlawanan yang
paling ekstrim dilakukan oleh Raja Muna La
Ode Dika gelar Komasigino saat menghadap
Sultan Boton La Ode Salihi. Di hadapan Sultan
Buton, Raja Muna La Ode Dika tidak melakukan
penghormatan sebagaimana layaknya bawahan
terhadap atasan, bahkan dengan ketegasannya
Raja Muna La Ode Dika mengacungkan
telunjuknya kepada Sultan Buton.
Kenyataan lain yang menunjukkan bahwa
Kerajaan Muna tidak pernah mengakui klaim
Kesultanan Buton dan sekutunya Kolonial
Belanda adalah kuatnya pengaruh kebudayaan
Muna mempengaruhi kehidupan masyarakat di
Kesultanan Buton khususnya pengguanaan
bahasa Muna. Fakta ini masih dapat dilihat
sampai saat ini dimana penutur bahasa Muna
(orang Muna) yang mendiami sebagian besar
wilayah ex Kesultanan Buton masih dapat
dilihat sampai saat ini..
Salah satu tradisi muna yang populer adalah
"Perkelahian Kuda", yang diadakan pada
berbagai acara atau perayaan dan
penyambutan tamu penting atau melayani
permintaan khusus. Seekor kuda betina akan
diperebutkan oleh dua ekor kuda jantan
sehingga mereka berkelahi untuk
mendapatkannya. Perkelahian ini biasanya
diadakan di lapangan terbuka
Masyarakat suku Muna sebagian besar hidup
pada bidang pertanian. Mereka membuka lahan
dengan aturan-aturan adat yang disepakati dan
ditaati bersama. Tanaman padi menjadi
tanaman utama mereka. Selain itu jagung, ubi
kayu, ubi jalar dan beberapa jenis sayuran serta
buah-buahan juga tambahan dalam hasil
pertanian mereka
sumbernya:
http://
protomalayans.bl
ogspot.com/
2012/11/
suku-muna-
sulawe
si.html






0 komentar:
Posting Komentar